Silaut News- faktor bibit memegang peranan penting dalam upaya peningkatan produksi dan mutu kelapa sawit. hal ini perlu diperhatikan karena menimbang kelapa sawit akan mengahsilkan ketika berumur 3-4 tahun setelah di tanam. hal ini dapat diukur dari produksi tandan buah segar, meningkatkan rendemen minyak, kandungan inti sawit, dan karakteristik vegetatip tanaman. faktor genetik dalam bibit akan mempengaruhi produksi hingga kira-kira 30%.
dengan dmeikian bibit harsu menjadi perhatian bagi penenam sawit dan pegiat dalam perkebunan sawit karena hal itu akan memberi pengaruh yang besar dan signifikan terhadap hasil sawit di kemudian hari.
13 Juli 2009
Persiapan Benih dan Bibit
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 22:37 0 komentar
Label: Sawit
07 Juli 2009
Pakistan Berharap Kesepakatan PTA Tercapai
Akhtar Ali Sulehri dari Kedubes Pakistan di Jakarta, dalam siaran pers, Senin (6/7), menyebutkan, sejak tahun 2006, Indonesia dan Pakistan telah mengadakan perundingan dalam rangka preferential trade agreement (PTA) guna mendorong hubungan dagang kedua negara. Selama lima tahun, pertemuan negosiasi teknis telah dilaksanakan. Di lain pihak, Malaysia dan Pakistan telah menyepakati perjanjian dagang bebas.
Tidak adanya PTA antara Indonesia dan Pakistan membuat pangsa pasar CPO Indonesia di Pakistan turun dari 44 persen pada 2007 menjadi 18 persen pada 2008. Importir Pakistan dilaporkan lebih membeli CPO dari Malaysia karena lebih murah 14 dollar AS per ton. Kondisi ini akan membuat pasar CPO Indonesia di Pakistan semakin tergerus (Kompas, 23/6).
Menurut Sulehri, lamanya proses kesepakatan perjanjian dagang PTA bukan karena pihak Pakistan. Ia menjelaskan, Pakistan menginginkan perlakuan tarif CPO yang sama yang diberlakukan bagi China pada perjanjian ASEAN+1. Pakistan sudah meresponsnya lewat Departemen Perdagangan RI.
”Pertemuan negosiasi teknis keenam diharapkan akan dilaksanakan secepatnya di Jakarta dan diharapkan PTA akan disepakati dan ditandatangani saat itu,” ujar Sulehri.
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 07:02 0 komentar
Label: Berita
Swasembada Beras dari Peluh Petani Santing
Oleh Hermas E Prabowo
Suara kodok dan desau angin pesisir mengiringi tenggelamnya matahari di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Namun, kian gelapnya hari tidak juga menghentikan Tasdam (59) menebar pupuk di sawah garapannya.
Baru pertama saya bisa menanam padi di sini dua kali setahun,” ungkap Tasdam, Rabu (1/7), dalam bahasa Sunda pesisir di sela-sela pemupukan tanaman padinya yang berumur sebulan.
Wajah keriput petani penggarap ini penuh sukacita. Matanya sesekali menatap air macak-macak yang menggenangi tanaman padinya. Kondisi yang selama ini jauh dari mimpi sekalipun. Tersirat harapan besar pada perubahan nasib menuju perbaikan hidup.
Maklum sejak 10 tahun belakangan ini, sejak pasokan air irigasi dari Bendungan Jatiluhur tak lagi mencukupi, usaha tani padi musim kedua Tasdam selalu gagal. Ayah satu anak dan satu cucu ini pun memutuskan berhenti menanam padi pada musim tanam kedua.
Iklim kian tak bersahabat lagi. Curah hujan sulit diprediksi. Pola tanam kacau. Kemarau datang lebih awal. Intrusi air laut menyelinap pada malam hari.
Kini segala cerita duka itu sebentar lagi berlalu. Sejak ”beroperasinya” Bendungan Karet di hilir Sungai Cipanas pada Januari 2009, ribuan lahan sawah petani terselamatkan. Sawah mereka kini mendapat pasokan air tawar yang teratur, termasuk sawah garapan Tasdam.
”Tanggul” buatan ini mampu menampung dan meninggikan elevasi air tawar di Sungai Cipanas untuk mengisi saluran-saluran irigasi. Pada saat yang sama tanggul juga bisa menahan masuknya air laut ke saluran irigasi saat pasang tiba.
Meski untuk itu, mereka kadang tetap harus memompa air tawar dari saluran irigasi ke sawah karena letak sawah di Desa Santing saat habis musim hujan lebih tinggi dari permukaan air.
Hamparan sawah di Desa Santing berada di sisi Sungai Cipanas. Pada saat puncak musim hujan yang biasanya akhir Januari dan awal Februari, sawah selalu kebanjiran. Padahal, bila mengacu pola tanam normal, pada saat itu tanaman padi umumnya sedang masuk tahap pengisian bulir (bunting), ada juga yang menjelang panen.
Akibatnya, tanaman padi rusak. Produktivitas dan kualitas beras jatuh. Kalau banjir datang ketika padi bunting, dipastikan bulir padi banyak yang hampa. Gagal panen pun membayang.
Agar petani bisa tetap panen, mereka pun mengatur waktu tanam. Mereka harus berhitung dengan cermat agar ketika banjir datang nanti, tanaman padi mereka berada pada fase sebelum bunting atau sedang mengalami masa pertumbuhan vegetatif yang usianya diupayakan sekitar sebulan setelah tanam.
Dalam kondisi ini, tanaman padi sudah cukup kuat menahan rendaman banjir. Tinggi tanaman sekitar 60 sentimeter. Pilihan lainnya mengupayakan agar saat banjir tiba tanaman padi memasuki masa panen.
Persoalan selanjutnya memang tidak sesederhana itu mengingat awal musim hujan sulit diprediksi. Tak jarang hujan datang begitu singkat dengan curah hujan sangat tinggi. Kalau begini, jangan harap bisa menanam lebih awal untuk memanen sebelum banjir tiba.
Upaya yang paling mungkin dilakukan petani di Desa Santing adalah memundurkan jadwal musim tanam padi pada musim hujan. Misalnya saat hujan tiba bulan Oktober, petani tidak langsung melakukan pesemaian. Waktu pesemaian dimundurkan hingga akhir November atau awal Desember
Satu masalah teratasi, muncul masalah lainnya. Memundurkan waktu tanam padi pertama pada musim hujan akan berdampak mundurnya musim tanam kedua, yang biasanya dilakukan akhir April atau awal Mei.
Memundurkan musim tanam juga berisiko kekeringan karena biasanya hujan berhenti justru ketika tanaman padi sedang banyak membutuhkan air untuk memenuhi pertumbuhan vegetatif dan generatifnya.
Solusinya selama ini hanya bisa dilakukan dengan cara menyuplai air dari sumur pantek. Namun, malangnya, tidak semua sumur pantek airnya tawar. Intrusi air laut menyebabkan air sumur asin. Bila dipaksakan, risikonya tanaman padi mati.
Petani yang air sumur panteknya tawar masih bisa memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padinya. Air sumur dipompa beberapa jam, setelah lima- enam hari sawah basah. Kondisi itu harus terus diulang selang lima hari berikutnya. Akibatnya, biaya usaha tani padi membengkak dua kali lipat dan pendapatan bersih petani turun. Tak jarang hanya impas.
Pengalaman petani Desa Santing hampir sama juga dialami oleh petani Desa Kertajadi di Kecamatan Losarang, serta di Desa Karang Anyar, Parean, Bulak, Hilir, dan Anjun di Kecamatan Kandang Haur.
Secara umum, sawah di wilayah Indramayu berada di ujung sistem irigasi dan di mulut sungai. Perairan darat, seperti dalam bentuk air sumur pantek, memiliki tingkat keasinan tinggi. Apalagi kemiringan lahan hanya 0-2 persen.
Karena itu, cerita duka kerap muncul dari petani di sana.
Padahal, jutaan petani seperti Tasdam itu turut memberi kita makan. Mereka menyumbang produksi padi 2009 hingga 62,5 juta ton gabah kering giling dan mencapai swasembada beras. Ketahanan pangan bangsa terpelihara. Harga pangan terjangkau dan situasi politik stabil.
Mereka berpeluh, tanpa minta imbalan. Karena itu,
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 06:58 0 komentar
Label: Pertanian
06 Juli 2009
Perlu Budaya Ekonomi Baru
Untuk itu, dibutuhkan transformasi nilai-nilai budaya ekonomi yang harus didorong dan dimulai dari pemimpin negara.
Silaut News-Demikian salah satu intisari dari pidato pakar manajemen, Rhenald Kasali, saat pengukuhannya sebagai guru besar ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sabtu (4/7) di Depok, Jawa Barat. Rhenald menjadi guru besar aktif ke-21 di lingkungan FEUI.
”Krisis yang terjadi berulang-ulang mencerminkan lemahnya kendali manajerial dalam pelaksanaan kebijakan. Tidak adanya pembelajaran yang diambil, lemahnya penerapan knowledge management, dan kurang kuatnya leadership dalam sistem perekonomian negara,” ujar Rhenald.
Kelemahan tersebut harus diisi dengan perencanaan strategis yang didukung dengan konsepsi manajemen modern yang dilandasi tata nilai, budaya ekonomi, dan core belief.
Itu semua akan membuat bangsa mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin hari semakin berat, lebih variatif, dan datang lebih cepat.
Rhenald mengatakan, krisis yang datang terus-menerus, terakhir krisis 2008-2009, menunjukkan tidak siapnya manusia Indonesia di semua lini dalam menghadapi perubahan.
Perubahan dipandang lebih sebagai sebuah ancaman yang harus dilawan dan dihindari, bukan untuk dihadapi.
”Pengalaman menunjukkan, krisis justru terjadi pada saat manusia tidak mau atau enggan beradaptasi. Pada akhirnya, krisis memaksa manusia untuk berubah,” katanya.
Menurut Rhenald, saat ini perekonomian global, termasuk Indonesia, dipenuhi orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan teknis, tanpa dibekali keyakinan dan nilai-nilai baik.
Akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh keserakahan, di mana pelaku ekonomi kerap mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Kesuksesan hanya melulu diukur dari materi dan kedudukan yang diperoleh. Faktor inilah yang kemudian mendorong terjadinya krisis keuangan global.
Dari kajiannya, Rhenald mengemukakan, ada 10 nilai budaya ekonomi yang negatif, yakni budaya jalan pintas, budaya konflik, budaya saling curiga, budaya mencela, budaya foto-foto, budaya pengerahan otot massa, tidak tahu malu, popularisme, budaya prosedur, dan budaya menunda.
Budaya konflik terjadi karena adanya paradigma yang memandang kompetisi sebagai agresi. Padahal, dalam kompetisi diperlukan pula kerja sama
Adapun budaya foto-foto, tutur Rhenald, diartikan sebagai budaya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kondisi lingkungannya secara menyeluruh.
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 07:52 0 komentar
Label: Berita
Bengkulu Berniat Bangun Bank Padi
Silaut News-Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah atau Disperindagkop dan UKM Provinsi Bengkulu mengusulkan pembangunan dua bank padi ke Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
”Kami mengusulkan pembangunan dua bank padi, masing-masing di Kabupaten Rejang Lebong dan Mukomuko,” kata Kepala Disperindagkop dan UKM Provinsi Bengkulu Syamsu Ridhuan ketika dikonfirmasi di Bengkulu, Minggu (5/7).
Rejang Lebong dan Mukomuko selama ini merupakan daerah sentra produksi padi di Provinsi Bengkulu sehingga layak dibangun bank padi. Produksi gabah di Kabupaten Mukomuko, misalnya, rata-rata mencapai 41.000 ton per tahun yang dihasilkan dari areal 7.000 hektar.
Kabupaten tersebut merencanakan melakukan penambahan areal pertanian seluas 5.000 hektar. Pembukaan lahan baru bertujuan mewujudkan Mukomuko menjadi sentra produksi beras nasional.
Kementerian Negara Koperasi dan UKM akan membantu pembangunan bank padi di dua kabupaten tersebut.
Sebelumnya, pada 2007, Kementerian Negara Koperasi dan UKM juga telah memberikan permodalan sebesar Rp 1,1 miliar untuk pembangunan bank padi di Kabupaten Lebong. Bantuan tersebut diberikan pada Koperasi Unit Desa (KUD) Makmur.
”Bank padi di Lebong sudah mulai berjalan dan mulai melakukan pembelian padi dari petani setempat,” katanya.
Dipilihnya Lebong juga merupakan salah satu sentra produksi gabah di Provinsi Bengkulu. Luas lahan pertanian di daerah ini mencapai 10.000 hektar.
Bank tersebut bertugas untuk membeli padi hasil panen para petani setempat, yang kemudian akan diolah sendiri atau dijual lagi.
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 07:51 0 komentar
Label: Berita
perkembangan kelapa sawit
Silaut News- menurut sejarahnya kelapa sawit berasal dari Afrika. ada juga yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal darinAmerika Latin dan Amerika Selatan. sebagian besar yang ada di Indonesia berasal dari Boubon( Mauritius) dan Amesterdam belanda. yangpada waktu itu sawit hanya sebagai penghuni kebun raya Bogor pada tahun 1848.
dan pembenihan selanjutnya dilakukan di Deli, Sumatera Utara. kebun kelapa sawit pertama kali di buka di Tanah Itam Ulu dan di Pulau raja yang luas wilayahnya mencapai 2.715 ha. (Silaut News)
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 07:41 0 komentar
Label: Sawit
30 Juni 2009
Gubernur Sumbar Akan Stop Investasi Lahan Sawit Baru
Silaut News-PADANG--Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berniat menghentikan pembukaan lahan perkebunan sawit baru mulai tahun 2009. Keinginan tersebut didasari untuk melindungi lahan masyarakat petani tradisional.
"Penutupan penambahan lahan ini telah dikoordinasikan dengan kepala daerah di 19 kota dan kabupaten di Sumbar," kata Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Selasa (30/06/2009) pada wartawan.
Menurut Gamawan, pihaknya akan melanjutkan pembicaraan langkah penutupan pembukaan lahan sawit baru di Sumbar itu dengan walikota dan bupati besok.
Menurut Gamawan, alasan penghentian investasi tersebut karena pertumbuhan penduduk di Sumbar mengakibatkan kebutuhan lahan semakin tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk menyediakan lahan sawit dalam jumlah besar.
Berdasarkan data Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Sumbar, luas lahan sawit mencapai 276.410 hektare. Dilihat dari segi penguasaan lahan, luas kelapa sawit rakyat yang dikelolal rakyat mencapai 67,42 persen, sementara Perkebunan Besar Negara (PBN) dan perkebuanan besar swasta 32,58 persen.
Menurutnya, minat investor untuk pembukaan lahan sawit baru di Sumbar masih tetap tinggi. Hanya saja, ujar Gamawan, minat tersebut terkesan kurang serius.
"Ada investor Malaysia yang ingin investasi di sector perkebunan sawit tapi hanya mampu menyediakan 20 persen untuk plasma, kalau tidak sanggup diatas 50 persen, silahkan pergi," kata Gamawan. (rd)
Diposkan oleh Riwayat At-Tubani di 21:49 1 komentar
Label: Berita


